Membuat laporan keuangan tentu sudah menjadi kewajiban bagi sahabat baik sebagai pebisnis maupun staf akuntansi. Akan tetapi sering kewajiban tersebut akan terasa berat kalau perangkat yang digunakan minim akan fitur bahkan parahnya lagi masih menggunakan cara manual. Biasanya mereka yang masih memiliki pola pikir bahwa pencatatan manual yang dianggap lebih simpel, nyatanya malah memperumit dan memperlambat dalam mengambil keputusan bisnis. Tidak jarang rumitnya membuat kertas kerja, membuat ayat jurnal akan membingungkan dan berpeluang menimbulkan risko jika kurang teliti.  Bukankah begitu sahabat?

Diah selaku accounting staff di sebuah perusahaan perdagangan, berdasarkan wawancara kami, mengaku awalnya lebih menyukai pencatatan keuangan menggunakan cara manual. Kebetulan beliau bekerja menggunakan tools yang sudah siap digunakan alias rumus akuntansi sudah pernah dibuat sebelumnya oleh tim akuntansi di perusahaannya. Lambat laun beliau menemukan banyak sekali kekurangan yang mau tidak mau rumus yang belum ada harus beliau buat sendiri. “Awalnya mudah, tapi di tengah jalan banyak transaksi yang menemukan jalan buntu karena fiturnya tidak ada. Ada yang bisa saya buat sendiri rumusnya, tapi ada juga yang memang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi,” ujarnya.

Kadang-kadang ada juga perusahaan yang masih mengandalkan cara lama itu dengan dalih lebih hemat dan tidak perlu adanya maintenance (pengelolaan) sehingga biaya bisa ditekan. Padahal implementasi tersebut sama saja dengan menimbun masalah bertubi-tubi misalnya waktu pembuatan laporan keuangan menjadi lebih lama, pengendalian atas keakuratan nilai yang sulit, dsb.

Software Laporan Keuangan vs Excel

Sahabat yang sudah pernah bersinggungan dengan akuntansi baik di bangku sekolah, kuliah, maupun di area pekerjaan mungkin sudah pernah merasakan juga bagaimana membuat jurnal hingga laporan keuangan dengan berbagai perangkat, setidaknya ada 3 perangkat yang biasa dipakai yaitu:

  1. Buku catatan keuangan
  2. Excel
  3. Software Laporan Keuangan

Ketiga alat bantu itu memiliki fungsi dengan taraf kemampuan akomodasi fasilitas yang berbeda-beda. Semakin tinggi intensitas transaksi, tentu buku catatan keuangan juga tidak akan digunakan lagi atau mungkin digunakan hanya sekadar untuk catatan kecil atau backup-an.

Membuat Laporan Keuangan dengan Excel

Coba kita tinggalkan dulu buku catatan keuangan. Sekarang kita bahas ke point selanjutnya yaitu Excel. Apa yang pernah sahabat lakukan dengan Excel? Berikut ini gambaran yang paling sering terjadi:

  1. Membuat rumus terlebih dahulu.
  2. Sukarnya membuat jurnal yang memerlukan penghitungan diskon dan biaya
  3. Membuat rumus untuk menghitung harga pokok persediaan
  4. Sukarnya merekonsiliasi bank karena harus mengeliminasi nilai yang tidak cocok lalu membuat jurnal penyesuaian yang diperlukan.
  5. Menghitung revaluasi valas secara manual
  6. Menghitung penyusutan harta tetap secara manual
  7. Membuat jurnal khusus yang menimbulkan buku besar pembantu
  8. Memposting lagi jurnal ke buku besar dan pastinya sangat banyak jurnal yang harus diposting satu per satu.
  9. Membuat Neraca Lajur untuk mencatat jurnal penyesuaian
  10. Mencatat jurnal pembalik ketika tutup buku dilakukan
  11. Membuat rumus dan menghitung manual rasio kinerja keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *